Powered By Blogger

Kamis, 26 September 2013

TAHTA!!

Kali ini aku bakalan cerita tentang tahta. Kebanyakan orang-orang sekarang sudah bangga dengan pangkat tinggi yang sudah dimilikinya. Apalagi sudah bekerja dan tentunya kebanyakan orang-orang berpikir ke uang terus. Apalagi saat ini ada isu-isu mengenai pembunuhan karena tahta. Oke kali ini aku bakalan membahas mengenai tahta.
Umumnya, orang yang mendapat kenaikan pangkat atau jabatan akan merasa gembira karena itu berarti ia akan menduduki tempat yang lebih prestisius, memiliki anak buah, dihormati dan leluasa memerintah bawahan, dan kemauannya selalu didengar. Dari bibirnya akan meluncur kalimat Alhamdulillah. Namun, benarkah demikian yang harus dilakukan oleh seorang muslim ketika derajat duniawinya diangkat Allah?
Seorang sahabat yang mendapat anugerah kenaikan jabatan mengucapkan astaghfirullah, subhanallah, dan Alhamdulillah. Raut wajahnya terlihat biasa-biasa aja. Bahkan, bukan aura kebahagiaan yang terlihat melainkan kecemasan. Saya  yang sangat penasaran dengan ekspresi wajahnya itu memberanikan diri untuk bertanya. Lalu ia menjawab, “Mengapa yang pertama kali saya ucapkan astaghfirullah? Karena seorang pemimpin mengemban amanah yang sangat besar dan akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Seorang pemimpin bisa dengan mudah berbuat salah dan tidak adil. Terkadang, sifat egonya juga mudah muncul. Untuk itu, saya memohon ampunkan kepada Allah terlebih dahuluagar Dia membimbing diri saya nanti.
Subhanallah saya ucapkan karena hanya Alla-lah Yang Maha Suci dan tidak pernah berbuat salah. Sementara manusia adalah tempatnya salah satu dan dosa. Semoga Allah mensucikan diri saya sehingga segala dosa dan kesalahan saya selama menjabat nanti diampuni-Nya.
Terakhir, saya mengucapkan Alhamdulillah. Hal ini bukan semata-mata karena saya naik jabatan tetapi sebagai ungkapan syukur ketika Allah bersedia memaafkan kasalahan saya saat memimpin dan mensucikan noda-noda yang akan saya buat nanti. Kalimat ini juga sebagai ungkapan syukur karena Allah bersedia membimbing saya selama menjalankan kepemimpinan. Kalau boleh, sebenarnya saya lebih senang memilih posisi yang sekarang. Tidak usah menjadi pemimpin. Sebab, orang yang akan mendapatkan amanah sebenarnya tengah diuji oleh Allah.”
Demikian penjelasan darinya. Terus terang saya kagum dengan jawabannya. Di mata sahabat saya itu, betapa menjadi pemimpin tidaklah mudah. Ia merasa sangat rawan tergelincir ke dalam lumpur dosa sebab terbebani oleh tanggung jawab yang begitu besar.
Jarang sekali saat ini kita temui pemimpin yang memiliki kesadaran penuh tentang betapa berat mengemban sebuah amanah. Kabanyakan manusi justru mengejar jabatan demi memenuhi ambisi pribadi atau sesuatu yang tidak jelas tujuannya. Tidak jarang untuk memperolehnya mereka melakukan berbagai cara seperti “jurus katak meloncat”, yaitu berusaha meraih pujian atasannya dengan cara melakukan semua yang diinginkan sang atasan meskipun tindakannya itu keliru. Seorang pemimpin yang tidak jeli dengan rayuan seperti ini pada akhirnya akan mencelakakan dirinya dan orang banyak suatu hari nanti.
“Jurus katak meloncat” identik dengan perilaku meningkirkan para pesaing dengan cara yang tidak fair seperti mencoreng nama dan kredibilitas mereka dengan cara menyebarkan fitnah di depan sang pimpinan. Musibah tersebut akan semakin besar jika sang atasan tidak melakukan cek dan ricek terhadap kebenaran informasi. Tersebut sehingga berakibat pada pengambilan keputusan yang keliru.
Mereka yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan meraih jabatan tinggi melalui persaingan yang tidak fair serta tidak memiliki integritas, kapabilitas, dan kredibilitas pada akhirnya akan merongrong keutuhan suatu organisasi atau institusi. Manusia dengan tipe seperti ini akan mudah memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan kroninya serta mengorbankan kepoentingan orang banyak.
Seorang pemimpin tidak pernah terikat oleh kepentingan keluarga dan kroni-kroninya, namun oleh peraturan dan hokum yang berlaku. Seorang pemimpin itu harus bertipe ideal, arif, bijaksana, jujur, tegas dan tidak pandang bulu dalam menegakkan hokum yang berlaku.
Bila hukum bisa dipermainkan maka akibatnya mudah ditebak. Kekacauan akan terjadi dalam roda institusi. Kebanaran tidak dihargai dan kejahatan merajalela karena dapat dibeli. Keputusan hukum diambil secara subyektif.
Sifat lain dari seorang pemimpin yang hilang pada zaman sekarang adalah pengorbanan. Saat mendapat kebahagiaan maka yang pertama kali menikmati adalah umatnya, sementara beliau sendiri yang paling akhir. Ketika mendapat kesusahan beliau sendiri yang merasakannya sedangkan umatnya beliau upayakan agar tidak turut menanggungnya. Sikap seperti itu tidak mudah ditiru oleh para pemimpin di zaman sekarang.
Bukankah kekuasaan itu tidak kekal? Kalau demikian, mengapa seorang pemimpin tidak mau meninggalkan kenangan terindah bagi kebanyakan orang? Mengapa mereka memilih menukar kehormatan dengan kehinaan? Bukankah akan lebih baik bila mereka memegang pepatah, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang”?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar